Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya Muhidin M. Dahlan

0
125

“Demoralisasi dalam Penghianatan Diri Sendiri akan Dogma”

Judul:Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
(Memoar Luka Seorang Muslimah)
Penulis:Muhidin M. Dahlan
Penerbit:ScriPta Manent, 2005.
Cetakan:Cetakan ke-1
Tebal:269 hlm.; 12 x 19 cm

Biografi Penulis

            Ulasankita.com – Muhidin M. Dahlan adalah seorang penulis yang dilahirkan pada bulan Mei 1978. Ia dibesarkan di Donggala, Sulawesi Tengah. Beliau sempat menempuh pendidikan di jurusan Teknik Bangunan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta serta menempuh pendidikan nya jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yang kedua jurusan tersebut tidak rempung studinya. Dirinya merupakan mantan aktivis dalam komunitas eksternal seperti Pergerakaan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pelajar Islam Indonesia (PII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam kesehariannya, ia selalu membaca, menulis, serta menjadi pustakawan di Yayasan Indonesia Buku.

            Beberapa karangan yang telah terbit yaitu: Di Langit Ada Cinta (2002), Terbang Bersama Cinta (2002), Mencari Cinta (2002), Jalan Sunyi Seorang Penulis (2003), Adam Hawa (2005), Kabar Buruk dari Langit (2005), Trilogi Lekra tak Membakar Buku (2008), Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku (2009), Aku Mendakwa Hamka Plagiat (2011), Inilah Esai (2016), Ideologi saya adalah Pramis (2016).

Sinopsis dan Sepenggal Hikmah

            Novel ini menceritakan tentang seorang muslimah yang taat kepada Tuhannya yang bernama Nidah Kirani. Hampir setiap saat, tubuhnya ditutupi oleh kerudung dan jubah besar. Setiap waktunya ia habiskan hanya untuk sholat, membaca kitab (al-Qur’an) dan berzikir serta melakukan ritual agama lainnya yang diperintahkan oleh Tuhan-Nya. Demi mencapai hakikat kezuhudan itu, ia seringkali hanya mengonsumsi roti dan susu dalam jumlah sedikit di sebuah asrama mahasiswa. Dirinya memilih kehidupan yang sufistik. Dimana sufistik ialah sebuah aliran dalam ajaran islam dimana bertujuan untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak demi memperoleh kebahagiaan yang haqiqi. Dirinya hanya memiliki satu cita-cita yaitu untuk menjadi Muslimah yang beragama secara kaffah (menyeluruh/total).

            Namun, pada titik tengah dalam proses tersebut dia mengalami keterpaan badai kekecewaan dan penghianatan oleh Organisasi Ekstremis aliran garis keras yang mencetuskan tegaknya aturan syariat islam di Indonesia secara keseluruhan baik dalam segi pemerintah, hukum, norma, dan tata kehidupan bermasyarakat maupun non pemerintahan seperti aturan pergaulan dan lain lain. Mirisnya, hal ini mengakibatkan dirampaskan nya nalar kritisnya Sang Nidah Kirani itu sekaligus keimanannya yang terkoyak-koyak. Tiap tutur kata baik keingintahuannya akan dogma agama menjadi buntu sebab jawaban yang diterima olehnya melahirkan kenistaan dan keresahan.

            Dalam keadaan hampa tersebut, ia ditusuk oleh kejamnya dunia hitam. Dirinya melampiaskan kekecewaan bercampur dengan gelora amarah dan rasa frustasinya akan dogma dengan mengonsumsi obat obatan terlarang (narkoba) serta melakukan freesex bersama banyak pria hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Tiada rasa penyesalan kepada Tuhan selepas ia melakukan tindakan yang dilarang oleh Tuhan. Kerapkali dirinya berzina dengan aktivis beraliran kanan dan kiri yang meniduri dan ditidurinya sebab ingin melampiaskan hawa nafsunya.

            Malahan, dalam proses pengalaman yang buruk itu, ia banyak berjumpa dengan para petinggi birokrat yaitu salah seorang anggota DPRD dari partai “Islam” dan juga sekaligus merupakan dosen di sebuah kampus yang bernuansa “Islam” yang menyediakan diri  menjadi seorang alku dalam jual beli jasa prostitusi kepada para petinggi di Negara Republik Indonesia.

            Walhasil, suatu ketika seorang Nidah Kirani juga sempat berniat untuk melakukan bunuh diri namun hal tersebut gagal dilakukannya. Sebab akhirnya dia tidak mati dan masih diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan untuk memperbaiki keadaannya yang kian memburuk itu. Namun, sungguh dicanangkan, seorang Nidah Kirani tetap kukuh dengan pendiriannya yang sekarang membuat dirinya menjadi seorang pelacur. Sebuah pekerjaan yang dianggap oleh masyarakat adalah hal yang tabu namun baginya tidak. Dia sangat menentang keras sebuah konsep pernikahan. Baginya tugas seorang pelacur dengan seorang istri adalah sama. Sama-sama memenuhi hawa nafsu seorang pria.

Berikut ini adalah sepenggal ucapan dari tokoh utama yang bernama Nidah Kirani dalam Novel nya berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

“…Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini (pernikahan) dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya “.

–AOV–

Lantas,, Bagaimana dengan kalian pecinta novel klasik? Apakah kalian para wanita dan pria menyetujui argument dari tokoh utama tersebut ? Atau apakah kalian menentang keras argument tersebut ? Atau malah,, kalian tertarik dan penasaran untuk membaca kisah novel tersebut untuk dijadikan refleksi dari kehidupan yang fana ini ??

Komentar dibawah yah…😊

Source: Dahlan, M. Muhidin. 2005. Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Yogyakarta: ScriptaManent.

Demoralisasi dalam kehianatan diri sendiri akan Dogma dalam Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Nilai Ulasan8.8
8.8
Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya Muhidin M. Dahlan
Reader Rating: (13 Rates)8.4
mm